Desa Nawangsari merupakan desa yang berada di bawah wilayah Kabupaten Kendal tepatnya di Kecamatan Weleri. Terletak di Jalur strategis yang di lewati oleh jalan nasional dan jalan Provinsi menjadikan desa ini sebagai tujuan para investor dan perantau mencari penghidupan.
Saat ini penduduk Nawangsari diisi oleh berbagai masyarakat baik penduduk asli desa maupun pendatang yang membaur menjadi suatu kesatuan desa seperti miniatur Indonesia. Kerukunan dan toleransi menjadi ciri khas desa. Suku Jawa, Sunda, batang, Minang, Tionghoa, Keturunan arab dan lainnya bersatu padu mewarnai kehidupan di desa. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, 2 gereja berdiri dengan damai.
Dengan Luas wilayah kurang lebih 78 Hektar, wilayah Nawangsari di dominasi oleh pemukiman penduduk, dan sekitar 20 hektar merupakan lahan pertanian. Didukung wilayah yang strategis, mayoritas penduduk Nawangsari berprofesi sebagai pedagang yang di dominasi oleh UMKM, serta pekerjaan lainnya yang mendukung proses perniagaan.
ASAL-USUL DESA NAWANGSARI
Desa Nawangsari berkaitan erat dengan mitos Dewi Nawangwulan dan Joko Tarub yang sudah melegenda di masyarakat tanah Jawa. Ada juga yang menceritakan bahwa Desa Nawangsari berhubungan dengan kisah Raden Damar Wulan dari Kerajaan Panjalu-Kediri yang pernah singgah disuatu daerah tepian sungai yang kelak dikemudian hari sungai tersebut bernama Sungai Damar yang sebelah barat dan Sungai Bulanan atau sungai mati disebelah timur.
Bahwa Raden Damar Wulan berkelana jauh ke daerah arah barat karena tersiar kabar akan kecantikan seorang gadis yang masih keturunan bidadari yang turun kejagad dunia ini yaitu Dewi Nawangsari, yang merupakan anak keturunan dari Bidadari Dewi Nawangwulan.
Dimasa penjajahan dan Kerajaan Nusantara, Desa Nawangsari menjadi tempat berlatih atau perkemahan para prajurit Mataram dibawah Tumenggung Sosro Bahu Rekso yang akan menyerang Batavia Tahun 1645.
Dimasa perjuangan kemerdekaan, Desa Nawangsari berperan besar mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dibuktikan bahwa Lurah Nawangsari pada waktu itu yaitu R. Wiryoredjo mengikuti rapat di Yogyakarta pada waktu Yogyakarta menjadi Ibukota Negara Indonesia pada saat Agresi Militer I Belanda Tahun 1948.
Pada saat Lurah R. Wiryaredjo mengikuti rapat di Yogyakarta, Belanda masuk ke Desa Nawangsari Tahun 1948 dan menjadikan Desa Nawangsari sebagai markas sementara dengan mengangkat Rasman Sastro Suwarno sebagai lurah boneka Desa Nawangsari.
Setelah serangan umum 1 Maret 1949, bahwa Republik Indonesia masih berdiri, maka Lurah R. Wiryoredjo kembali ke Desa Nawangsari Tahun 1950 dan diangkat kembali oleh rakyat Desa Nawangsari menjadi lurah resmi Desa Nawangsari.
Lurah R. Wiryoredjo menjabat hingga tahun 1956, dan dimasa ini terjadi pemilihan lurah secara langsung oleh rakyat Desa Nawangsari melalui coblosan dan hitungan sapu lidi yang dimenangkan seorang pejuang kemerdekaan yaitu prajurit TNI Serma Soedarmo.
“Nawangsari Makmur Sejahtera”.
| Foto | Nama | Jabatan |
|---|---|---|
![]() |
MUHAMMAD AINURROKHIM, S.Th.I | KEPALA DESA |
![]() |
MUHAMMAD ZAKKY TAUFIQILLAH, S.Kom, M.Si. | SEKRETARIS DESA |
![]() |
Nur Arifin | Kaur Keuangan |
![]() |
Nurhadi | Kaur Perencanaan |
![]() |
Siti Minarsih | Kaur Umum dan TU |
![]() |
Shobirin | Kasi Pemerintahan |
![]() |
Achmad Ihsan | Kasi Pelayanan dan Kesra |