Medono, Kec. Boja Lihat website

Berita
0

Kegiatan
0

Agenda
0

Potensi
0

Badan Usaha
0

Inovasi
0

Belum ada posting berita

Profil

Desa Medono merupakan satu dari delapan belas desa di Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Medono sendiri merupakan desa terjauh dalam administratif Kecamatan Boja dengan jarak 16 Km dari pusat Kecamatan. Jarak menuju ibukota Kabupaten Kendal sejauh 35 Km, sedangkan jarak menuju ibukota provinsi di Semarang berjarak 26 Km. Secara administratif Medono mempunyai wilayah yang berbatasan dengan Desa Pasigitan di sebelah utara dan timur, Hutan Lindung Perhutani KRPH (Kepala Resort Polisi Hutan) Magelang sebelah Selatan, Desa Gonoharjo di sebelah barat. Luas wilayah Desa Medono yaitu 221.577 Ha dan lahan tersebut digunakan sebagai persawahan,perkebunan dan juga permukiman warga setempat.

 


Geografis Desa Medono terletak pada koordinat 7°7'53"S dan 110°20'33"E serta topografi Desa Medono berada di ketinggian 350-500 meter di atas permukaan laut dan memiliki kemiringan lahan 30 hingga 60 derajat?. Meskipun berada di wilayah kaki Gunung Ungaran cuaca di Desa Medono tidak terlalu dingin berkisar 24 – 30 derajat? pada siang hari dan 20 – 25 derajat? pada malam hari.Jenis tanah di Desa Medono berjenis latosol yang bercirikan berwarna netral coklat sampai merah. Tanah jenis ini memiliki produktivitas yang tinggi untuk lahan pertanian hingga perkebunan.


Kondisi cuaca yang tidak terlalu dingin dan tanah yang berjenis latosol memungkinkan masyarakat mengembangkan pertanian lahan kering berupa sawah tadah hujan, tegalan dan kebun. Perkebunan sendiri merupakan jenis pemanfaatan lahan yang paling banyak di kembangkan dengan jenis tanaman kopi. Selain itu masyarakat juga menanam sengon, dan buah-buahan semisal pisang raja, alpukat. Komoditas lain yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah tanaman aren yang tumbuh liar di kebunkebun warga. Pohon aren di Desa Medono dimanfaatkan air niranya untuk sebagai bahan pembuatan gula aren.


Selain mengembangkan tanaman musiman dan tahunan yang mempunyai durasi panen lumayan lama untuk menyambung hidup warga mensiasatinya dengan menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, selain itu juga tanaman selingan seperti umbi-umbian dan kacang-kacangan.

Sejarah

Menurut penuturan narasumber, Bapak Aziz selaku kepala Dusun Krajan (Medono) menjelaskan para sesepuh tidak terlalu menjelaskan asal-usul desa ini terbentuk. Namun, diperkirakan Desa Medono terbentuk pada saat zaman Kesultanan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sebagai penguasa Mataram, beliau mengeluarkan kebijakan untuk membuka lahan di daerah pedalaman yang belum dikuasai oleh VOC untuk memperkuat pengiriman logistik pasukan Mataram, pada saat itu Jayakarta (Batavia) masih berada di tangan VOC, Salah satu lahan yang dibuka berada di wilayah lereng utara Gunung Ungaran.

Masyarakat Desa beranggapan bahwa leluhur mereka berasal dari abdi dalem Kesultanan Mataram Islam yang bernama Dono dan Dini. Sepasang kakak beradik ini mendapat tugas untuk membuka lahan baru di pedalaman sekaligus menyebarkan agama islam kepada penduduk sekitar. Oleh sebab itu, Desa Medono merupakan Desa yang sangat berpegang teguh pada agama dan cukup religius.

Setelah berhasil melakukan tugasnya, abdi dalem yang bernama Dini dipersunting seorang pria dari daerah Limbangan kemudian menetap di daerah tersebut hingga meninggal. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, maka desa tersebut berganti nama menjadi Medini. Sedangkan sang kakak yaitu Dono masih menetap di lereng sebelah utara dan mendirikan pondok padepokan untuk terus menyebarkan agama islam yang kemudian mendapat julukan dari mayarakat sebagai Kyai Dono.

Setelah berhasil menyebarkan dan mengembangkan padepokan, beliau menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Selepas pulang dari tanah suci Kyai Dono mengganti namanya menjadi Kyai Mustajab dengan maksud supaya keinginan dan doa beliau di ijabah dan dikabulkan oleh Allah SWT. Padepokan yang sudah berkembang pesat tersebut berubah menjadi sebuah perkampungan yang diberi nama Kampung Kyai Dono Sari. Nama kampung terbentuk dari kebiasaan santri yang selalu berbicara “Yo podho ngaji menyang Kyai Dono” yang kemudian berubah menjadi “Yo 7 Ngaji Medono” dan sekaligus merubah nama kampung tersebut menjadi Kampung atau Desa Medono.

K.H Mustajab (Kyai Dono) mempunyai santri yang salah satunya bernama Kyai Cokro atau lebih dikenal sebagai Kyai Ja’far. Beliau mendirikan perkampungan baru di sebelah timur Kampung Medono yang diberi nama Kampung Jambon karena banyak ditanami buah jambu biji. K.H Mustajab dan Kyai Ja’far terus mengabdi dan tetap tinggal di wilayah tersebut hingga akhir hayatnya. Makam K.H Mustajab dikenal
dengan nama Makam Dowo yang berada di wilayah sebelah utara kampung. Sedangkan Kyai Ja’far dimakamkan di sebelah barat atas kampung Jambon, yang sekarang berada di dekat bekas area penambangan batu.

Saat ini Kampung Medono dikenal secara administratif sebagai Dusun Krajan dan Kampung Jambon dikenal sebagai Dusun Jambon. Dusun Krajan terbagi menjadi empat RT dan Dusun Jambon terbagi menjadi dua RT.

Visi dan Misi


Data masih kosong

Aperatur


Foto Nama Jabatan
JOKO SUKO SARONO KEPALA DESA
MUH. MUNIB SEKRETARIS DESA
LANGGENG RAHARJO KASI KESRA DAN PELAYANAN
AZIS KEPALA DUSUN KRAJAN
JUNANTI KEPALA DUSUN JAMBON
AHMAD NUR ARKANUDIN KASI PEMERINTAHAN
REFA YUSANTO KAUR UMUM DAN PERENCANAAN

Kontak


Email

desamedono57@gmail.com


Telepon

081393414122


Alamat

Jl. Kyai Mustajab No. 01


Email

51381