Jungsemi, Kec. Kangkung Lihat website

Berita
10

Kegiatan
6

Agenda
0

Potensi
0

Badan Usaha
1

Inovasi
0



Infografis APBDesa 2025

26-02-2025 | UMUM


Infografis APBDesa 2024

14-03-2024 | UMUM


PENYALURAN BANSOS

22-02-2024 | BERITA

Profil

PROFIL DESA

KONDISI UMUM DESA JUNGSEMI

 

1.1    Kondisi Geografis

Berdasar letak Geografis wilayah , Desa Jungsemi berada di sebelah Barat Utara Ibu Kota Kabupaten Kendal. Desa Jungsemi merupakan salah satu Desa di Kecamatan Kangkung Kabupaten Kendal, dengan jarak tempuh ke Ibu Kota Kecamatan 2 Km dan ke Ibu Kota Kabupaten 20 km/mil laut, dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 (dua) 45 – 50 menit.

Batas- batas Desa Jungsemi adalah:

Sebelah utara; Laut Jawa

Sebelah Timur; Desa Tanjung Mojo, Kali Blukar

Sebelah selatan; Desa Karangmalang Wetan dan Desa Kangkung

Sebelah Barat; Desa Karangmalang Wetan

Desa jungsemi berada di LS 6^54’26.3” BT 110^07’12.3” dengan ketinggian 10m diatas permukaan laut Luas wilayah daratan Desa Jungsemi adalah 623,6 Km² dengan panjang pantai 2.52 Km². Luas lahan yang ada terbagi dalam beberapa peruntukan, dapat dikelompokan seperti fasilitas umum, pemukiman, pertanian, kegiatan ekonomi dan lain-lain.

Secara Administratif wilayah Desa Jungsemi mempunyai 3 (tiga) Dukuh yaitu : Dukuh Srandu, Dukuh Clumprit, Dukuh Kemejing yang terdiri dari 27 RT (rukun tetangga), dan 4 RW (rukun warga) dimana RW 01 terdiri dari 8 RT (terdapat di Dukuh Srandu), RW 02 terdiri dari 7 RT (terdapat di Dukuh Clumprit), RW 03 terdiri dari 6 RT dan RW 04 terdiri dari 6 RT (dimana RW 03 dan RW 04 terdapat di Dukuh Kemejing). (Peta Desa terlampir).

Secara topografi Desa Jungsemi berada di bagian utara Kecamatan Kangkung dengan seluruhnya berada pada dataran rendah.

Dengan kondisi topografi demikian, Desa Jungsemi memiliki variasi ketinggian antara 1 m sampai dengan 11 m dari permukaan laut. Daerah terendah adalah di wilayah pinggir pantai dan Daerah yang tertinggi berada di wilayah RT 06/RW 03.

Sejarah

SEJARAH DESA JUNGSEMI

 

Desa Jungsemi merupakan salah satu desa yang terletak di Pantai Utara Jawa, yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani. Pada masa Kerajaan Mataram yang pimpin oleh Sultan Agung, ketika itu masa penjajahan Belanda. Raja Mataram memutuskan untuk mengadakan perlawanan terhadap penjajah Belanda di Batavia.

Untuk persiapan mengadakan perlawanan menghadapi Belanda, Sultan Agung memanggil semua Adipati dan pembesar kerajaan untuk mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Sultan Agung sendiri. Kendal memiliki cacatan sejarah besar, pada saat itu Kendal menjadi tempat berkumpulnya para pembesar-pembesar kerajaan, banyak Adipati dan Tumenggung yang harus meninggalkan daerahnya dan berkumpul di Kendal karena diputuskan bahwa Kendal yang akan menjadi pusat persiapan perang dengan tentara VOC di Batavia, tetapi tempat pertemuannya masih di rahasiakan.

Para pembesar kerajaan yang berkumpul di Kendal dalam rangka persiapan perang melawan Belanda di Batavia antara lain : 

1.

Tumenggung Bahurekso

 

15.

Kyai Mojo

2.

Pangeran Purboyo

 

16.

Tumenggung Bagamanda

3.

Pangeran Juminah

 

17.

Raden Haryo Pungkono

4.

Tumenggung Mandurejo

 

18.

Raden Mutahar

5.

Tumenggung Upahasanta

 

19.

Tumenggung Pasir Puger

6.

Tumenggung Kertiwongso

 

20.

Pangeran Karang Anom

7.

Tumenggung Wongsokerto

 

21.

Pangeran Tanjung Anom

8.

Tumenggung Rajekwesi

 

22.

Tumenggung Panjirejo

9.

Raden Prawito Setyo

 

23.

Pangeran Puger

10.

Pangeran Kadilangu

 

24.

Tumenggung Singorono

11.

Pangeran Sojomerto

 

25.

Ario Wiro Notopodo (Suropodo)

12.

Raden Sulamjono (putra Tumenggung Bahurekso)

 

26.

Tumenggung Wiroguno

13.

Raden Banteng Bahu

 

27.

Raden Bagus Komojoyo

14.

Kyai Akrobudin

 

 

 

Juga masih banyak tokoh-tokoh lainnya.

Terbayangkan bahwa Kendal akan menjadi tempat yang maju dan ramai sehingga akan menarik perhatian para Sentono kerajaan-kerajaan dan para Adipati, figur yang menjadi perhatian para tumenggung beserta pembesar kerajaan adalah Adipati/Tumenggung Bahurekso.

Tumenggung Bahurekso memutuskan bahwa tempat pertemuan persiapan perang tidak dilakukan di Kadipaten tetapi di pesisir utara Jawa disebuah tempat yang dekat dengan pantai, karena para Adipati menghendaki bahwa tempat pertemuan harus tersembunyi dan rahasia, hasilnya tempat yang dipilih adalah di tengah hutan tepatnya dibawah pohon yang sangat rindang, dan pohon itu sekarang dikenal dengan nama pohon Kemangi sehingga tempat pertemuan tersebut dikenal paseban kemangi.

Saat pertemuan dilaksanakan agar kerahasiaan dan informasi tidak bocor oleh telik sandi penjajah Belanda, dibuatlah benteng yang tidak kasat mata mengelilingi lokasi pertemuan tersebut (Oyot Miman penduduk setempat menyebutnya). Setelah melalui musyawarah serta saran-saran dari para Adipati dan para pembesar kerajaan, Pimpinan dan Panglima perang pun disusun dan ditetapkan, diantaranya Tumenggung Bahurekso beliau adalah Adipati Kendal dan Gubernur Pesisir Laut Jawa salah satu panglima yang akan memimpin perlawanan terhadap Belanda di Batavia.

Di masa kini tempat pertemuan (paseban kemangi) tersebut masih ada dan benteng yang tidak kasat mata (Oyot Miman) belum dihilangkan. Sekarang, masyarakat luas mengenal tempat itu dengan nama Makam Kemangi, hingga kini beberapa masyarakat (khususnya para ahli spiritual) masih memanfaatkan Oyot Miman tersebut.

Dengan segala mitos tentang Makam Kemangi yang beredar di masyarakat, dalam sejarah Makam Kemangi adalah tempat yang mempunyai sejarah penting di Kabupaten Kendal dan menjadi saksi bisu perjuangan Pahlawan-pahlawan dalam melawan Belanda.

Di sisi lain ketika pertemuan di Paseban Kemangi itu berlangsung, memunculkan cerita tutur yang menjadi kenangan masyarakat sekitar diantaranya suasana di daerah yang menuju ke Paseban Kemangi benar-benar ramai, karena banyak peninggalan leluhur Mataram dibanyak tempat sepanjang menuju paseban kemangi. Disetiap sudut wilayah selalu dijaga oleh banyak prajurit baik yang berasal dari kadipaten Kendal maupun yang berasal dari daerah lain.

Ketika menuju ke Paseban Kemangi para petinggi Mataram tidak langsung ke paseban, mereka lebih dahulu disambut untuk istirahat di Padepokan Laduni Faqoh milik Tumenggung Rajek Wesi yang punya panggilan Semboro dan juga Kyai Akrobudin. Padepokan Laduni Faqoh memang mempunyai daya dorong dan daya spiritual yang sangat tinggi, baik terhadap para petinggi Mataram maupun prajurit lainnya, dan tempat itu kemudian diilhami oleh Ari Wiro Notopodo atau Suropodo.

Berawal dari cerita tutur tersebutlah nama desa jungsemi berasal, dari dua suku kata yaitu : Ujung dan Semi (bahasa jawa) Ujung berarti Pangkal dan Semi berarti Tambah atau selalu bersemi, jadi Jungsemi berarti suatu daerah yang terletak dipangkal ujung utara atau pantai laut yang selalu bertambah luas.

Lalu siapa sosok yang ada di makam kemangi?, adalah beliau mbah Sokerto Wongso Dikromo (Mbah Laistiddin/ Simbah Kemangi), sosok yang senantiasa mengajarkan kepada pengikutnya untuk menghilangkan/mematikan sifat-sifat rakus seperti yang dimiliki penjajah VOC Belanda (orang yang kulitnya berwarna bule), dari ajaran inilah hingga saat ini di makam kemangi selalu diadakan (setiap 3-5 tahun sekali) penyembelihan Kerbau bule (kerbau yang warnanya albino). Mengapa kerbau bule?, karena kerbau bule merupakan simbolis, pengingat agar kita selalu mematikan/menghilangkan sifat-sifat rakus seperti yang dimiliki penjajah VOC Belanda (orang yang kulitnya berwarna bule), tetapi inti dari acara tersebut adalah sedekah atas rasa syukur karena nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah S.W.T.

Pada masa penjajahan Belanda, waktu itu Desa Jungsemi mulanya terdiri dari 2 (dua) Desa, yaitu Jungsemi bagian Timur adalah dukuh Kemejing, dan Jungsemi bagian Barat, yaitu dukuh Clumprit dan Srandu, kemudian disatukan pada masa dipimpin oleh :

1.

Tahun 1904-1920

Sumo atau Sumodiwiryo

 

16 Tahun

2.

Tahun 1920-1928

Sirum atau Sastro Diwiryo

 

8 Tahun

3.

Tahun 1928-1936

Mohtar

 

8 Tahun

4.

Tahun 1936-1945

Abdul Hamid

 

8 Tahun

5.

Tahun 1945-1984

Soemarijo (Kades)

Soedaryo (Carik)

39 Tahun

6.

Tahun 1984-1994

Munawar Soebarjo (Kades)

Soedaryo (Carik)

10 Tahun

7.

Tahun 1994-2004

Zaenuri (Kades)

Sunarto (Carik)

10 Tahun

8.

Tahun 2004-2009

Sulton

Sunarto (Carik)

5 Tahun

9.

Tahun 2009-2010

Randiman (PJ.Kades)

Sunarto (Carik)

1 Tahun

10.

Tahun 2010-2016

Sugiyono (Kades)

Sunarto (Carik)

6 Tahun

11.

Tahun 2016-2022

Dasuki (Kades)

Nur Khozin (Carik)

6 Tahun

12.

Tahun 2022 - Sekarang

Dasuki (Kades)

Nur Khozin (Carik)

 

 

Visi dan Misi


Visi

VISI

Visi adalah suatu gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan dengan melihat potensi dan kebutuhan desa. Visi Desa Jungsemi adalah :

“Terbangunnya Tata Kelola Pemerintahan Desa Yang Baik dan Berkarakter guna mewujudkan Kehidupan Masyarakat Desa yang Adil, Makmur dan Sejahtera”

Rumusan Visi tersebut merupakan suatu ungkapan dari suatu niat yang luhur untuk memperbaiki dalam Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan di Desa Jungsemi baik secara individu maupun kelembagaan sehingga 6 (enam) tahun ke depan Desa Jungsemi mengalami suatu perubahan yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dilihat dari segi ekonomi dengan dilandasi semangat kebersamaan dalam Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan.



Misi

MISI

Misi merupakan pernyataan tentang tujuan operasional dalam rangka mewujudkan visi. Sebagai penjabaran dari visi yang telah ditetapkan, pernyataan misi mencerminkan tentang segala sesuatu yang akan dilaksanakan sehingga roda pemerintahan desa dapat eksis menyelenggarakan fungsi kepemerintahannya sekaligus melakukan pelayanan masyarakat sesuai tuntutan kebutuhan yang dikehendaki pada masa yang akan datang.

Visi dan Misi Desa Jungsemi tentulah harus diikuti dengan tujuan dan sasaran kegiatan yang merupakan penjabarannya sebagai outline target yang ingin dicapai adalah sebagai berikut :

  1. Menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) berdasarkan demokratisasi, transparansi, partisipatif, akuntabilitas dan mengutamakan pelayanan kepada masyarakat;

Tujuan :     

a. Meningkatnya kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa yang demokratis, akuntabel, transparan dan responsif dengan aparatur pemerintahan yang profesional.

  • Terwujudnya aparatur yang kompeten dan profesiona.
  • Peningkatan kesejahteraan aparatur desa.
  • Terwujudnya akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan desa.
  • Terwujudnya transparansi dalam penyelenggraaan pemerintahan desa.
  • Terwujudnya penyelenggaraan pelayanan publik yang responsif, efektif dan efisien.
  • Meningkatnya penataan administrasi kependudukan.
  • Meningkatnya disiplin aparatur desa dalam fungsi pelayanan terhadap masyarakat.
  • Tercapainya sistem dan mekanisme penyelesaian masalah pemerintahan di tingkat desa
  1. Meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan desa dalam menjalankan tupoksinya sehingga lebih memaksimalkan kemampuan dalam tata kelola pemerintahan.
  2. Meningkatnya kualitas produk hukum desa yang berlandaskan pada bentuk-bentuk partisipasi masyarakat.
  3. Meningkatnya sistem manajemen pengelolaan asset desa.
  4. Meningkatnya tertib administrasi dan transparansi keuangan desa
    1. Meningkatkan sistem perencanaan pembangunan desa yang partisipatif dengan menekankan pada konsepsi DOUM (Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat);

Tujuan   :

  1. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan desa.
  • Terselenggaranya pengkajian keadaan desa dengan melaksanakan pemetaan swadaya secara rutin demi menghasilkan sebuah sketsa desa yang komprehensif.
  • Terwujudnya perencanaan pembangunan desa.
  • Meningkatnya kualitas dokumen perencanaan pembangunan desa
  • Terdeteksinya masalah-masalah yang sering muncul di masyarakat berdasarkan analisa kalender musim.
  • Terlaksananya kegiatan evaluasi kelemahan serta kekuatan potensi lembaga desa dalam diagram kelembagaan.
  • Meningkatnya ketersediaan data kependudukan.
  • Tersusunnya sebuah Profil Desa yang faktual dan akuntable.
    1. Integrasi perencanaan pembangunan desa dalam semangat "One Village, One Vision, One Plan for All".
  • Terbentuknya jalinan koordinasi serta konsolidasi yang baik antar lembaga-lembaga desa bersama dengan pemerintahan desa.
  • Tersusunnya sebuah dokumen perencanaan pembangunan desa yang disusun secara bersama-sama serta digunakan sebagai acuan pelaksanaan kegiatan semua lembaga yang ada di desa.
  • Terciptanya sebuah produk hukum dokumen perencanaan pembangunan desa yang menjadi satu-satunya dokumen perencanaan pembangunan yang ada di desa.
    1. Transparansi Informasi Penyelenggaraan Pembangunan Desa (IPPD);

Tujuan   :

  1. Masyarakat lebih mudah dalam mengakses informasi Rencana Kegiatan Pembangunan Desa, perkembangan kegiatan pembangunan yang sedang berlangsung serta capaian pelaksanaan kegiatan pembangunan.
  • Tersosialisasinya IPPD kepada masyarakat lewat kegiatan Musdes, pertemuan Tingkat RT, PKK, gapoktan serta lembaga-lembaga desa yang lainnya.
  • Tersosialisasinya IPPD kepada masyarakat lewat kegiatan pemasangan banner / baliho di balai desa.
  • Tersosialisasinya IPPD kepada masyarakat lewat media Website Desa.
    1. Meningkatkan pembangunan infrastruktur desa secara berkesinambungan berdasarkan skala prioritas dan pembidangan;

Tujuan   :     

  1. Meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat khususnya dibidang pendidikan dan kesehatan.
  • Tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.
  • Meningkatnya jumlah murid yang lulus wajib belajar 12 tahun.
  • Meningkatnya kapasitas sarana dan prasarana kesehatan secara lebih merata.
  • Meningkatnya jumlah penduduk yang terlayani oleh petugas kesehatan.
  • Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.
  • Meningkatnya derajat kesehatan warga masyarakat dan pengelolaan keluarga berencana.
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung kenyamanan serta kelancaran transportasi masyaraka.
  • Peningkatan kualitas (rehab) jalan poros desa.
  • Peningkatan kualitas pra sarana jalan.
  • Pembangunan jalan beton sebagai pengganti aspal untuk lebih memudahkan pengerjaan serta perawatan.
  • Pembangunan talud jalan sebagai pengaman bahu jalan agar tidak mudah longsor.
  • Meningkatnya kualitas dan kapasitas sarana dan prasarana pelayanan publik.
  • Pelebaran jalan di beberapa ruas yang strategis dalam rangka meningkatkan kenyamanan serta kelancara.
  • Pembangunan Batas Desa / Gapura Desa
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung perekonomian desa.
  • Pembangunan saluran irigasi dan Buangan air demi meningkatkan produksi pertanian masyarakat.
  • Meningkatnya prasarana perekonomian.
  • Pemeliharaan (rehab) lantai saluran irigasi.
  • Pembangunan jalan usaha tani agar lebih mudah dalam pengangkutan hasil panen masyarakat.
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung sarana lingkungan permukiman.
  • Pemeliharaan (rehab) jalan-jalan permukiman.
  • Pembangunan jalan beton di permukiman sehingga bisa dikerjakan sendiri oleh masyarakat serta mudah dalam perawatannya.
  • Meningkatnya kualitas sumber daya air.
  • Pembangunan saluran drainase di permukiman untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang lebih baik.
  • Pembangunan Instalasi pembuangan air limbah komunal di permukiman yang padat / kumuh.
  • Pembangunan dan Rehab Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi warga kurang mampu.
  • Terpeliharanya sarana dan prasarana fasilitas umum dan fasilitas sosial.
  • Pembangunan sarana dan prasarana fasilitas umum dan fasilitas sosial.
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung pengelolaan persampahan.
  • Pembuatan bangunan produksi pengolahan sampah.
  • Pengelolaan sampah pemukiman.
  • Peningkatan fasilitas alat-alat produksi pengolahan sampah.
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung pendidikan masyarakat.
  • Pembangunan ruang perpustakaan desa.
  • Pembangunan gedung / Aula sanggar desa.
  • Pembangunan Gedung PAUD.
  • Peningkatan sarana prasarana TK dan Paud.
    1. Meningkatkan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung kesehatan masyarakat.
  • Pembangunan Klinik Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
  • Pembangunan sarana dan prasarana Olahraga.
  • Pemeliharaan sarana dan prasarana Olahraga.
    1. Pembangunan fasilitas sarana prasarana infrastruktur desa yang mendukung Ruang Terbuka Hijau (RTH).
  • Terbangunnya Kawasan Ruang Terbuka Hijau sebagai sarana berkumpul, bermain serta menjadi fasilitas rekreasi warga.
    1. Peningkatan pariwisata yang mendukung perekonomian masyarakat Desa.
  1. Pembangunan sarana prasarana pariwisata.
  2. Peningkatan wahana Wisata baik alam maupun Religi.
  3. Meningkatkan pembangunan dibidang ilmu pengetahuan untuk mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia agar memiliki kecerdasan dan daya saing yang lebih baik;

Tujuan   :     

  1. Meningkatkan taraf dan kualitas pendidikan masyarakat.
  • Terselenggaranya fasilitas Taman Bacaan Masyarakat dengan media buku serta internet.
  • Pendidikan non-formal terhadap warga masyarakat dalam bentuk pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.
    1. Meningkatkan pembangunan dibidang sosial kemasyarakatan dalam rangka menjalin sinergitas antar kelompok / komunitas masyarakat;

Tujuan   :

  1. Meningkatkan pembinaan terhadap lembaga-lembaga masyarakat desa.
  • Meningkatnya fasilitas serta dukungan operasional guna pembinaan terhadap lembaga kemasyarakatan yang ada di desa.
  • Meningkatnya partisipasi dan keterwakilan masyarakat dalam politik.
  • Meningkatnya peran dan fungsi lembaga kemasyarakatan yang ada di desa.
    1. Meningkatkan pembinaan keamanan dan ketertiban swadaya, rasa ketenteraman dalam masyarakat serta solidaritas dan toleransi, baik inter dan antar umat beragama serta kepercayaan terhadap Tuhan YME.
  • Terselenggaranya tata kelola keamanan, ketentraman dan ketertiban.
  • Meningkatnya solidaritas dan toleransi, baik inter dan antar umat beragama serta kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Terciptanya kerukunan antar warga masyarakat dalam dimensi agama, aliran kepercayaan, keyakinan politik, kelompok masyarakat dan yang lainnya.
    1. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga kerukunan, memelihara norma serta melestarikan budaya.
  • Terselenggaranya fasilitas kegiatan dalam rangka memperingati Hari Besar Keagamaan, Nasional dan Daerah.
  • Melestarikan Adat Budaya dan Kearifan Lokal.
  • Terselenggaranya fasilitas kegiatan Kepemudaan dan Olaraga Tingkat Desa.
    1. Meningkatkan pembangunan ekonomi dengan mendorong semakin tumbuh dan berkembangnya pembangunan di bidang pertanian, home industry, Usaha Mikro kecil dan menengah serta pariwisata;

Tujuan   :

  1. Meningkatkan produksi pertanian.
  • Meningkatnya produksi pertanian tanaman pangan dan hortikultura
  • Meningkatnya produksi peternakan dan perikanan.
    1. Meningkatkan pemberdayaan para pelaku usaha pertanian.
  • Meningkatnya peran pemberdayaan para pelaku pertanian dalam upaya peningkatan produksi pertanian.
  • Meningkatnya keberhasilan pencegahan dan penanggulangan hama serta penyakit.
    1. Meningkatkan penguasaan ketrampilan serta pembinaan pelaku usaha industri dan perdagangan.
  • Meningkatnya ketrampilan usaha dan berkembangnya usaha home industry.
  • Meningkat dan berkembangnya usaha perdagangan masyarakat.
    1. Meningkatkan akses permodalan masyarakat.
  • Meningkat dan berkembangnya lembaga keuangan mikro dan/atau koperasi sebagai wadah aktifitas ekonomi masyarakat.
    1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam rangka mendukung capaian serta target pembangunan desa;

Tujuan   :

  1. Meningkatkan program penanggulangan kemiskinan, pemberdayaan dan penguatan kelompok masyarakat.
  • Berkurangnya jumlah dan angka penduduk miskin.
  • Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.
  • Meningkatnya jumlah unit usaha kelompok masyarakat kurang mampu.
  • Tertangani dan terbinanya masyarakat penyandang masalah kesejahteraan social.
  • Menguatnya kapasitas kelembagaan masyarakat.
    1. Mempersiapkan Desa Jungsemi menuju DESA SIAGA MANDIRI.
  • Meningkatnya kapasitas Forum Kesehatan Desa (FKD).
  • Peningkatan kapasitas kader kesehatan dalam penggunaan alkes serta penanganan dini terhadap gejala penyakit menular
  • Tersedianya layanan cek kesehatan masyarakat secara rutin.
  • Tersedianya Rumah Data Sehat.
  • Melestarikan budidaya tanaman obat keluarga.
  • Tersedianya fasilitas pendukung terhadap kesehatan ibu hamil dan balita.
  • Peningkatan pelayanan posyandu lansia.
    1. Mempersiapkan Desa Jungsemi menuju SMART VILLAGE.
  • Tercapainya layanan administrasi kependudukan berbasis IT.
  • Terselenggaranya sistem updating kependudukan dalam Data Dasar Keluarga yang terkoneksi dengan Website Kemendagri.
  • Tersedianya Website Desa.
  • Terciptanya Unit Teknologi Desa dalam rangka penyediaan jasa layanan online untuk kebutuhankebutuhan normatif masyarakat (pembayaran pajak listrik, PBB, asuransi BPJS dan lainnya).
    1. Mempersiapkan Desa Jungsemimenuju DESA INOVASI LINGKUNGAN HIDUP.
  • Terselenggaranya sistem layanan pengambilan sampah di permukiman warga secara bertahap.
  • Meningkatnya inovasi produk daur ulang / pengolahan sampah.
  • Tersedianya lahan untuk pembibitan tanaman pangan keluarga serta tanaman lainnya.
  • Terlaksananya gerakan berbagi pohon dalam rangka mendistribusikan tanaman ke wilayah permukiman.
  • Tersedianya lahan untuk praktek edukasi lingkungan hidup.
    1. Mengembangkan BUMDesa serta penguatan modal BUM Desa dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.

Tujuan   :

  1. Terbentuknya Unit Usaha BUM Desa.
  • Terbentuknya Unit Pengelola Pariwisata (UPW) PIK
  • Meningkatkan perekonomian masyarakat melalui BUMDesa.

Aperatur


Foto Nama Jabatan
DASUKI Kepala Desa
NUR KHOZIN Sekretaris Desa
AHMAD IHWAN Kaur Keuangan
PUJI RIWANTO Kaur Tata Usaha & Umum dan Perencanaan
SOFWATIN HAJAROH Kasi Pelayanan & Kesejahteraan
SUYATNO Kasi Pemerintahan
MUHAMMAD HUSEIN ABDILLAH Kepala Dusun I
MUJARONDI Kepala Dusun II
ABDUL CHOLIQ Kepala Dusun III
SRI SUHARYANTI Kepala Dusun IV

Kontak


Email

jun9semijaya@gmail.com


Telepon

-


Alamat

Jl. K.H. Abu Bakar No. 3


Email

51353